Peran Pemuda Melestarikan Cagar Budaya


Pemuda adalah garda depan dalam mengemban amanat bangsa. Memiliki energi yang tidak terbatas dalam hidup sehari-hari, sehingga dapat melakukan perubahan disendi kehidupan berbangsa.

Banyak aktivitas yang sebenarnya tidak terlepas dari pemuda seperti kesenian, olahraga, bakti masyarakat, penelitian dan pelestarian Cagar Budaya. Namun amat disayangkan peran pemuda pada salah satu aktivitas tersebut terbilang sedikit yaitu melakukan pelestarian terhadap Cagar Budaya, hal itu bertolok ukur dari lemahnya kontrol pemuda terhadap pengahancuran-penghancuran peninggalan budaya di Indonesia.

Penghancuran yang terjadi memiliki salah banyak alasan, satu alasannya bahwa adanya keterkaitan masa kelam kolonialisme di Indonesia dengan masih adanya sisa-sisa bangunan tersebut. Namun hal itu sebenarnya bukanlah menjadi alasan pembenaran untuk membiarkan hal demikian terjadi. Sebenarnya keberadaan bangunan tersebut mengandung nilai-nilai pembelajaran yang sangat berharga bagi generasi muda saat ini, oleh sebab itu bangunan bangunan tersebut dilindungi khusus oleh Undang-Undang. Adalah Undang-Undang No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang memberikan perlindungan terhadap Bangunan Cagar Budaya tersebut.

Seperti yang diamatkan oleh Undang-Undang Cagar Budaya, bahwa Cagar Budaya memiliki nilai sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan agama dan kebudayaan. Nilai-nilai tersebut tidak muncul begitu saja tanpa proses, dan tidak  diketahui asal usulnya. Sebagai contoh kota lama padang yang memiliki Cagar Budaya dan mengandung nilai sejarah bagi wilayah sumatera barat secara khusus dan Indonesia umum, kota yang merupakan salah satu pintu gerbang pantai barat sumatera dalam kegiatan perdagangan dimasa sebelum kemerdekaan, yang membawa nilai-nilai kebudayaan baru, salah satunya model baru pendidikan, masyarakat baru, teknologi baru, bahasa baru, sistim sosial baru dan hal baru lainnya yang tercatat didalam sejarah.  Bukti padang sebagai kota yang memiliki sejarah-sejarah pembaharuan tersebut dapat dibuktikan dengan keberadaan Bangunan Cagar Budaya, pada tahun 2009 silam sebelum gempa  pada 30 September, dari pendatan yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (Bp3) terdapat 73 Bangunan Cagar Budaya, dan jumlahnya berkurang sehubung terjadinya gempa besar yang melanda daerah tersebut. Berkurangnya keberadaan bangunan tersebut berdampak pada hilangnya bentuk wajah sejarah yang ada di Kota Padang,

Tidak hanya Kota Padang, banyak kota lain di Indonesia juga memiliki nilai-nilai tersebut, merupakan tolok ukur pembelajaran pemuda tentang artinya kemerdekaan yang lahir dimasa lalu seperti Aceh, Medan, Yogyakarta, Bandung dan Surabaya termasuk kota-kota lain.

Pemuda dikategorikan sebagai masyarakat sipil, bagian penting dari sebuah negara yang memiliki kedaulatan dan wilayah selain aparat pertahanan. Di Indonesia Gerakan Pemuda membawa arti yang berarti didalam perubahan sebuah negera seperti Sumpah Pemuda 1928, Revolusi Indonesia pada 1966 dan Reformasi 1998, semuanya berawal dari pemuda yang memiliki kegigihan dalam melakukan perbaikan, terhadap sistim yang tidak sesuai untuk kehidupan masyarakat. Kontribusi perubahan berpengaruh terhadap Komponen Kebudayaan Bangsa, seperti kesepakatan bahasa, tatanan sosial, pendidikan, teknologi, seni, agama, dan mata pencaharian, seperti yang disampaikan oleh Koentjoronigrat tentang (7) Tujuh Unsur Kebudayan.

Arah hidup Bangsa Indonesia saat ini tidak terlepas dengan keterlibatan pemuda. Disaat pemuda terfokus pada ekonomi saja, maka dimasa mendatang bangsa akan berorentasi pada hal yang mengutamakan profit secara ekonomi saja. Hal itu berdampak buruk kepada kebudayaan yang masih tumbuh serta pada Cagar Budaya, perhatian yang terfokus pada kebutuhan ekonomi sehingga  terlepasnya nilai-nilai luhur jati diri yang mulai terbentuk. Jika kehilangan jati diri, masyarakat termasuk pemuda yang ada di bangsa tersebut akan merasa asing terhadap lingkungan hidupnya. Pemuda Indonesia tidak akan tahu lagi dari mana mereka berasal, apa yang dibanggakan dan kemana akan dibawa masa depan bangsa sendiri.

Kesuksessan seorang pemuda tidak hanya diukur dari jumlah pendapatan yang dimiliki, namun juga seberapa besar perannya dimasyarakat. Apakah peran serta pemuda di masyarakat dengan ikut serta menjaga Cagar Budaya, termasuk kegiatan pelestarian budaya. tentu saja, hal demikian dinilai adalah bentuk keterlibatan memperjuangkan bahagian yang terikat dalam nilai pendidikan dan sejarah. Hal tersebut yang mendasari keluhuran dan kesadaran didalam kehidupan berbangsa. Dengan memicu bahagian yang tidak terperhatikan oleh masyarakat umumnya, menggalang kekuatan secara bersama dalam Pelestarian Peninggalan Cagar Budaya untuk kepentingan bersama.

Bentuk keterlibatan pemuda dikategori sebagai peran aktif masyarakat dan dapat menunjang Pelestarian Cagar Budaya salah satunya menggalakan kegiatan Kunjungan Museum,  melakukan pengawasan pada pemanfaatan dan perawatan terhadap Cagar Budaya, berdiskusi serta seminar dengan tema Cagar Budaya dan nilai-nilainya. Peran serta lainnya juga dapat dalam bentuk promosi dalam bentuk tulisa maupun dokumentasi terhadap Cagar Budaya dan mempublikasikannya pada media publikasi yang ditemukan banyak pada saat sekarang.

Sangat akan ironi dimasa depan, pemuda tidak tahu dengan budayanya. Terlena kebutuhan ekonomi tanpa memiliki kepribadian yang berbudaya. Lupa dengan nilai Nasionalisme dan menjadi lokomotif budaya asing yang terlihat tidak cocok dengan jati diri Bangsa Indonesia.

Advertisements

One thought on “Peran Pemuda Melestarikan Cagar Budaya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s